Sunday, October 07, 2012

Film Pertama


"Adegan terakhir ya!!" teriak sang sutradara. Aku bersiap di lokasi syuting. Sebuah kamar dengan lampu redup. Tembok dan lantainya didominasi bercak warna merah yang diibaratkan darah yang berceceran akibat peristiwa pembunuhan. 
"Vicko, kamu udah siap?" tanya asisten sutradara padaku. 
"Iya." jawabku sambil mengangguk. 
"Oke! Take one! Scene seratus! Kamera rolling and action !" teriak sang sutradara. 
Seketika itu juga pandanganku nanar, aku mengambil sebuah pistol, dan menempelkannya di pelipisku. 
Tubuhku bergetar kencang. Airmataku menetes. Perlahan tapi pasti aku menarik pelatuk pistol. Suara tembakan terdengar menggema. Aku ambruk. Darah mengalir dari pelipisku. 
"Cut! OK! And it's wrapped!" teriak sutradara mengakhiri aktingku tadi. Semua orang di dalam ruangan bertepuk tangan. Syuting film pertamaku berakhir juga hari itu. 
Aku masih diam tak bergerak. 
"Ah sial!", gerutuku "Siapa yang menaruh peluru asli ke dalam pistol tadi?" 






-ultrautogia-

~dalam malam insomnia~

No comments:

Post a Comment