Sunday, February 27, 2011

Surat Konyol

Pagi yang cerah di kota konyol. Pagi yang sangat baik untuk memulai sebuah hari. Kota konyol, kota yang tidak pernah sepi dengan kekonyolan para penduduknya. Festival Buah hari itu sangat meriah. Meskipun dengan ciri khas kekonyolan masing-masing penduduk namun mereka tetap bersemangat mengikuti Festival Buah tersebut.
Sally dan beberapa temannya sedang menanam *buah konyol ketika seekor **burung konyol terbang ke arah Sally. Di leher burung tersebut tergantung sebuah surat kecil dan sebuah pena. Sally membuka suratnya dan membacanya

Aku udah di festival buah. kamu sama yang lain dimana?

Sally menuliskan sesuatu ke atas surat itu

Aku di kebun, sebelah kiri stand buah-buahan. Kamu ke sini aja.

Sally melipat suratnya lalu menggantungkan surat dan pena ke leher burung konyol dan menerbangkannya. Setelah burung itu terbang menjauh, Sally melanjutkan lagi usahanya menanam buah konyol. Begitulah cara penduduk konyol berkomunikasi jarak jauh. Surat-menyurat melalui burung konyol. Dan mereka menyebutnya surat konyol.
“Sally.”, panggil Shila sambil membawa seember tanah bercampur pupuk. “Ini.” Shila menyerahkan ember pada Sally.
“Kamu nggak ikutan nanam?”, tanya Sally.
“Hehehe…” Shila terkekeh. “nanti aja. Aku mau makan buah-buahan dulu sama temen-temen di sana.” Shila berlari-lari kecil menghampiri beberapa temannya yang sedang memakan buah-buahan.
“Dasar…”, gumam Sally.

●●●

Offy berjalan perlahan menghampiri Sally. Lalu, berjongkok di sebelahnya.
“Hai.”, sapanya. “udah lama? Tadi aku udah ke sini, tapi belum ada yang nanam-nanam di sini.”
“Nggak kok, baru aja.”, jawab Sally sambil terus menanam buah konyol.
“Sini aku bantuin. Aku juga pengen nyoba nanam.” Offy mengambil sekop dan tanah bercampur pupuk. Dan mereka menanam buah konyol bersama-sama.
Shila membawa dua buah konyol yang sudah matang di kedua tangannya. Berjalan menghampiri Sally berniat memberikan salah satu buah konyol untuk Sally.
Deg! Jantungnya serasa hampir berhenti berdetak. Lagi-lagi perasaan itu menyergap hatinya. Terhenti, tertegun, dan terdiam sesaat. Shila tidak tahu harus berbuat apa. Buah konyol itu masih digenggamnya erat. Sally dan Offy tertawa konyol dan bercanda bodoh sambil menanam buah konyol bersama.
Shila menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengatur perasaannya. Berjalan perlahan menghampiri mereka.
“Hai,” sapa Shila. “Ini buah buat kalian berdua. Dimakan ya…” Shila menyerahkan buah konyol tersebut pada Sally lalu tersenyum pada keduanya dan beranjak meninggalkan mereka.
“Aahh… Shila! Mau ke mana?”, tanya Sally. “kamu nggak ikut nanam?”
“Nggak… hmm… aku mau ke stand buah konyol aja. Tadi aku disuruh bantuin di sana.”, jawab Shila tanpa menoleh. Lalu, berjalan menjauhi mereka.
Sally memandang Shila yang semakin menjauh dengan bingung. Sally menoleh, melihat Offy yang sibuk menanam dengan bingung juga.

●●●

“Kenapa jadi gini lagi? Harusnya aku nggak boleh ngrasa kaya gini lagi!”, batin Shila. Dia duduk sendirian di stand buah konyol. Tiba-tiba seekor burung konyol terbang ke arahnya. Shila membuka surat yang menggantung di leher burung tersebut.

Masih di festival buah? Aku mau ke sana.

Shila mengambil pena yang menggantung di leher burung konyol lalu membalas surat tersebut.

Masih. Cepet sini. Kamu dimana? Aku di stand buah konyol.  

Shila menggantungkan pena dan surat itu ke leher burung konyol lalu menerbangkannya.

●●●

Beberapa menit kemudian, Shila yang ketiduran di stand buah konyol, terbangun karena suara ribut dari teman-temannya yang mulai berdatangan ke stand buahnya. Sally dan Offy juga mengekor di belakang mereka.
“hoahmmm…”
“Kamu dari tadi sendirian di sini?”, tanya Sally.
“hoahm… hiyah…”, jawab Shila sambil terus menguap.
“Yang lain pada ke mana?”, tanya Sally lagi.
“Nggak tau. Masih nanam-nanam mungkin.”, jawab Shila masih setengah sadar.
“Fygoooo…”, teriak beberapa teman Shila dan Sally tiba-tiba ketika Fygo datang.
“Haiiiiii…”, jawab Fygo sambil melambaikan tangan dengan gaya yang sangat bodoh.
Sally menatap Fygo bingung. Mulutnya serasa terkunci melihat kedatangan Fygo yang sangat tiba-tiba.
Fygo duduk di sebelah Offy dan memakan buah konyol, ngobrol dan tertawa-tawa konyol bersama.
Shila dan Sally saling bertatapan. Terdiam penuh makna.
Plak!
“Aow!!!”, teriak Shila tiba-tiba.
Fygo tertawa. Plak! Lagi-lagi dia melempar biji buah konyol ke kepala Shila.
“Fyyygggooo!!!” Shila mengambil biji buah konyol dan melemparkannya pada Fygo. Fygo berlari menghindar sambil terus tertawa konyol. Shila mengambil segenggam biji buah konyol dan berlari mengejar Fygo. Mereka terus berlari menjauh dari stand buah konyol. Shila terlihat masih berusaha melempari Fygo dengan biji buah konyol. Sally terdiam dan terduduk lesu di sebelah Offy.
“Kenapa sich? kok diem? ”, tanya Offy. “Sini, sini makan buah konyol sama Offy…” Offy menyodorkan buah konyol ke muka Sally. Sally tersenyum tipis dan mengambil buah tersebut.
“Makasih ya, Offy…”

●●●

Matahari sore mulai terbenam di balik bukit konyol yang berwarna kemerahan. Sally berjalan pulang beriringan bersama Shila. Rumah mereka memang bersebelahan, hanya dipisahkan oleh sebuah pagar tanaman bunga yang berwarna-warni saja. Sally membawa sekeranjang buah konyol dan Shila menenteng seember alat-alat menanam.
Sally meletakkan keranjang buahnya. Shila juga meletakkan alat-alat menanamnya. Sally mengambil beberapa buah konyol dan memberikan pada Shila.
“ini buat kamu.”, kata Sally. “kita bagi dua buah-buahannya.”
“Okai. Masukin aja ke ember sini.”, jawab Shila. “makasih ya…”
Sally memasukkan buah-buahan itu ke dalam ember. Shila mengangkat embernya dan berniat berjalan menuju rumahnya. Tapi dia menghentikan langkahnya. Meletakkan embernya dan menghampiri Sally lagi.
“Hmm… Sall… maaf buat yang tadi… aku ngrasa nggak enak sama kamu… sebenernya tadi… hmm… Fygo ngirimin aku surat konyol, trus aku bales… aku nyuruh dia dateng ke stand buah konyol. Aku juga ngrasa bersalah sama kamu karena tadi kejar-kejaran sama Fygo pake lempar-lemparan biji buah konyol segala. Maaf banget ya Sall…”
Sally tersenyum.
“Shila… kok malah jadi gini sich? Nggak apa-apa, shil… aku tau. Aku udah biasa aja koq.” Sally menepuk bahu Shila.
“Bener?” mata Shila berbinar-binar.
“Iya. Asal kamu tau aja ya, sebenernya aku juga yang nyuruh Offy dateng ke kebun tempat nanam buah konyol tadi. Karena aku kirain kamu mau ikutan nanam juga…”, kata Sally sambil menunduk.
“Oh… itu… iya, tadi aku agak kaget aja, tau-tau Offy ada di situ. Tapi, udahlah. Biarin aja. Aku juga udah biasa aja koq.”
Mereka berdua tersenyum.
“Kenapa kita bisa suka sama orang bodoh seperti mereka?”, tanya Sally.
“Karena kita konyol…!!!”, jawab Shila.
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA~~~!!!” Mereka tertawa, terbahak, dan tergelak.
Sekali lagi, kehidupan di kota konyol, segala sesuatu hanyalah kekonyolan dan kebodohan saja.










*Buah Konyol : Buah asli kota konyol, buah berwarna pink keunguan, rasanya manis, bentuknya mirip buah stroberi, hampir seukuran buah jeruk tapi jauh lebih besar. Bijinya keras, warnanya hitam dan sebesar biji buah salak. Semua penduduk kota konyol menyukai buah ini. Karena setelah memakan buah ini akan merasa sangat konyol dan bahagia*

*Burung Konyol : Burung asli kota konyol, banyak terdapat di kota konyol, mirip burung merpati, tapi burung ini berwarna-warni dan bisa berubah-ubah warna sesukanya. Di lehernya selalu tergantung sebuah botol kaca kecil yang berisi surat dan pena. Burung ini selalu tahu arah dan tujuan yang tepat untuk surat yang dibawanya dan bisa dipanggil sewaktu-waktu dengan menggunakan sebuah lonceng konyol yang berwarna keperakan yang bunyinya nyaring dan sangat merdu.**

No comments:

Post a Comment