Wednesday, February 16, 2011

SAAT SEPTEMBER DAN OCTOBER BERAKHIR

Waktu itu awal bulan September di tahun yang sangat panas. Hujan hampir tidak pernah turun di kotaku. Aku sedang berkumpul dengan teman-temanku. Menertawakan kekonyolan kami.

Tiba-tiba saja, dia datang. Pengusik ketenanganku. Pengganggu kebahagiaanku. Perusak kesenanganku. Aku tidak bisa lagi tertawa lepas. Aku harus mencari lagi arti kebahagiaan. Hatiku sesak olehnya. Senyumku meredup karenanya. Pikiranku dipenuhi sosoknya.

Ingin aku berteriak dan memakinya.
Ingin aku mengumpat dan menghancurkannya.
Ingin aku menutup mata, tak lagi memandangnya.
Ingin aku menutup telinga, tak lagi mendengar suaranya.
Namun, aku tak mampu melawan semuanya.
Sang pengusik ketenangan itu masih saja menyesaki hatiku…

Aku semakin terpuruk. Aku semakin jatuh. Aku semakin tenggelam.
Nafasku tersengal setiap mendengar namanya.
Jantungku berdegup setiap mendengar suaranya.
Hatiku tak menentu setiap memandang wajahnya.
Aku ingin berlari dari kenyataan ini.
Aku ingin terbang dan tak kembali.
Tapi, semua itu tidak akan bisa aku lakukan.

Aku hanya bisa menghadapinya.
Aku hanya harus menghadapinya dengan berani.
Aku ingin bercerita. Aku ingin mengungkapkan.
Terlalu letih. Terlalu lelah. Terlalu capek menyimpannya sendirian di hati dan otakku. Terlalu memenuhi perasaan dan pikiranku.

Saat itu akhir bulan September, hujan masih belum turun di kotaku. Aku menemukan seseorang yang mampu membaca hati dan perasaanku. Seseorang yang mampu mengerti hal yang aku rasakan. Seseorang yang juga merasakan hal yang sama denganku.

Aku merasa tidak sendiri lagi. Aku merasa tidak sepi lagi. Aku merasa tidak lemah lagi. Aku merasa mampu menghadapi.

Aku dan dia adalah dua pribadi yang berbeda tapi merasakan hal yang sama. Aku dan dia adalah dua orang konyol yang terperangkap dalam dunia orang bodoh.

Aku dan dia merasakan sakit yang sama.
Aku dan dia merasakan luka yang sama.
Aku dan dia merasakan lara yang sama.
Aku dan dia merasakan perih yang sama.

Aku dan dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pengusik-pengusik itu.


Pertengahan Oktober tahun itu, mendung mulai menggantung di kotaku, tapi hujan tidak juga turun.

Aku sudah mengusirnya. Aku membuangnya. Aku melupakannya. Aku meninggalkannya.
Tidak mudah bagiku. Tidak menyenangkan bagiku. Namun, tidak juga menyedihkan bagiku. Aku hanya tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu.
Aku hanya merasa sangat lega. Aku hanya merasa sangat bebas. Aku mulai menemukan lagi kebahagiaan. Aku mulai bisa tersenyum dan tertawa lepas.

Saat itu, aku masih melihat dia, seseorang yang juga merasakan hal yang sama denganku. Rupanya, dalam hal ini dia tidak bisa melakukannya semudah yang aku kira.
Aku masih saja berharap dia bisa meninggalkannya dan melupakannya. Aku sangat bisa merasakan sakit yang dia rasakan, perih yang dia rasakan, pedih yang dia rasakan.

Aku tau dia berjuang sangat keras mengusir pengusik itu. Aku tau dia berjuang keras membuangnya.

Akhir oktober tahun itu, hujan rintik-rintik mulai sering membasahi kotaku.

Aku sudah melupakannya. Dia sudah melupakannya. Kami sudah melupakan mereka.

Aku tersenyum padanya. Kami tertawa lepas. Menemukan lagi arti kebahagiaan yang sejati.


No comments:

Post a Comment