Wednesday, July 10, 2013

Kau adalah Telinga dan Tembokku.


Kau adalah telinga. Telinga yang mendengarkanku. 
Begitulah kalimat yang meluncur dari mulutnya. Aku masih sangat muda. Tidak tahu apa maksudnya. Tapi, aku senang. Aku senang dia selalu berbicara denganku. Aku senang dia selalu mencariku. Aku senang dia membutuhkanku. Aku yang selalu merasa tersesat di dunia ini bagaikan seekor kucing liar di pinggir jalan, hanya dia yang menemukanku, hanya dia yang mau memungutku, hanya dia yang mau datang padaku. 
Aku sangat bahagia. Pada saat itu. 
Kau adalah tembok. Tembok yang mendengarkanku.  
Pepatah cina mengatakan bahwa jika kamu tidak punya seseorang yang bisa kamu ajak bicara, berbicaralah pada tembok, tembok pasti mendengarkanmu. 
Begitulah kalimat yang keluar dari bibirnya. Aku tertegun. Aku selalu mendengarkannya. Mendengarkan ceritanya tentang wanita itu. Setiap hari. Setiap malam. Setiap saat. Kapanpun dia mau. Aku selalu ada untuknya. Apa dia tahu itu menyakitkan bagiku? Aku memang tidak boleh berbicara. Aku hanya mendengar. Tapi, hal ini lama-lama menyakitkan untukku. Apa tidak bisa sekali saja dia mendengar ceritaku? Aku juga ingin bercerita tentangku. Tentang aku dan dia. 
Tak sedetikpun dia membiarkanku berbicara. 
Tetap saja aku hanya telinga dan tembok untuknya. 
Meskipun dia menemukanku. Dia menyelamatkanku dari dunia yang sesat ini. Aku tidak mau hanya menjadi telinga dan temboknya. 
"Selamat tinggal.", kataku padanya malam itu. 
Keesokan harinya, dia kehilangan telinga dan temboknya. Sejak saat itu, dia tidak bisa berbicara pada siapapun. Sejak saat itu, aku adalah masalah terbesar dalam hidupnya yang tidak pernah dia ceritakan pada siapapun. 



-ultrautogia- 

FF2in1

2 comments: