Saturday, April 06, 2013

Matahari Yang Terbenam Pada Bulan April



Suara ombak, angin lembut, dan aroma laut… Aku tidak akan bisa melupakan semua itu… Tapi, yang paling tidak bisa aku lupakan adalah namamu… Saat namamu tertulis di atas pasir pantai hari itu.
***
Sunset, akhirnya sunset datang juga. Aku berjalan di sepanjang pantai. Ombak-ombak kecil menabrak-nabrak kakiku seakan menyuruhku untuk segera pulang. Handphone-ku berdering.
“Kamu dimana?” suara lembut tapi terdengar panik menyambutku saat aku mengangkatnya.
“Iya, aku pulang sekarang.” Aku menutup telepon.
Aku memandang sunset yang hanya terjadi selama sepersekian menit. Aku akan datang lagi besok. Melihat sunset lagi sendirian. Seandainya saja aku bisa melihat sunset ini bersamamu seperti dulu. Apa kamu masih ingat janji kita dulu? Apa kamu akan datang besok untuk melihat sunset bersamaku?
Aku memakai sandalku lalu meninggalkan pantai yang sudah mulai gelap.
***
Sudah hampir seminggu aku di sini. Melihat sunset sendirian setiap hari. Menunggu kamu yang mungkin sudah lupa pada janji kita. Seminggu yang lalu, aku masih sibuk mengurus ini itu di kampus. Seminggu yang lalu, aku juga masih sempat makan-makan merayakan ulang tahun bersama teman-temanku. Seminggu yang lalu, aku baru menginjak usia 22 tahun. Tapi, seminggu yang lalu pun aku tidak lupa pada janji kita sepuluh tahun yang lalu. Yah, itu seminggu yang lalu sebelum telepon di rumah berdering. Lalu, saat aku tersadar aku sudah ada di dalam pesawat yang terbang menuju ke arahmu.
Aku meletakkan tas-tas dan koper-koperku di lantai dan merebahkan tubuhku di atas sofa.
Jetlag, pikirku.
“Cherry!! Jangan taruh tas di situ! Taruh di kamarmu!” Kakak mengambil tas-tas dan koper-koperku dan menaruhnya ke dalam kamar.
Ah, jetlag, pikirku lagi.
“Cherry!! Jangan tidur di situ!! Tidur di kamar!!” Kakak menarikku ke dalam kamar dan melemparkan tubuh lemasku ke atas kasur.
“Dasar kamu ya! Dari dulu nggak berubah! Masih aja seenaknya sendiri!” Kakak masih mengomel dengan kencangnya dan aku masih jetlag dengan lancangnya.
Aku masih tidak percaya aku ada di sini lagi setelah sekian tahun. Kembali ke suatu tempat yang dulu pernah aku sebut ‘rumah’.
“Udahlah Mei, Cherry kan emang gitu orangnya…” Sayup-sayup aku mendengar mama mencoba membelaku.
“Ah! Mama selalu manjain dia…”
“Mei… Jangan galak-galak sama adikmu…” suara nenek juga terdengar membelaku.
“Nenek juga kan… Selalu manjain Cherry!”
Mataku terasa berat. Suara-suara ribut itu perlahan-lahan menghilang.
***
“Kak? Apa aku harus dateng ke pernikahanmu?”
“Apa kamu bilang? Ya harus dateng dong! Aku ini kakakmu ya! Enak aja kamu nggak dateng!”
“Tapi kakak juga nggak dateng pas ulang tahunku seminggu yang lalu!”
“Itu kan karena kakak kerja di sini! Masa kakak harus jauh-jauh naik pesawat dari satu pulau ke pulau lain cuma buat ngasih ucapan selamat ulang tahun ke kamu?! Lagian kakak udah ngirim hadiah kan buat kamu!”
Aku mendengus. “Iya, iya. Oke. Fine!”
“Udah! Ayo sekarang ikut kakak!”, kata kakak sambil menarik tanganku.
“Eh? Kemana kak?”
Aku melihat bayanganku di cermin. Sebuah gaun one-piece panjang berwarna pink terlihat pas di tubuhku.
“Nha itu udah pas, bagus kok”, kata kakak sesaat kemudian. “Ambil yang ini ya?”
Aku mengangguk dalam diam.
Aku melihat sekeliling ruangan. Ada banyak gaun di sini. Salah satu yang paling mencolok adalah gaun pernikahan yang sengaja di-display di tengah ruangan ini.
“Cher, ayo pulang!”
Aku berlari menghampiri kakak dan membawakan barang-barang belanjaannya.
Kakak menghela napas. “Hhh… Gaun pernikahan yang di tengah ruangan tadi bagus ya? Kakak sebenernya pengen beli yang itu, tapi mahal… Ya udah kakak beli yang lain.”
Aku melihat gurat kekecewaan di wajahnya. Aku tersenyum tipis.
“Kakak pasti tetep cantik kok pake gaun pernikahan apapun”, ujarku berusaha menghibur.
Kakak menoleh ke arahku. “Tumben kamu bisa ngomong sesuatu yang bener.”
Aku meringis.
***
Aku menuliskan namamu di atas pasir pantai sambil menunggu sunset.
Hai, apa kabar? Apa kamu masih ingat janji kita? Kapan kamu akan datang?
Sebuah pesan pendek aku tuliskan di bawah namamu.
Sunset sudah datang. Aku menghapus namamu dan pesan itu dengan kakiku. Sunset hari ini terlihat lebih terang daripada hari-hari sebelumnya. Hari ini sudah tepat seminggu aku di sini. Besok adalah pernikahan kakakku. Apa kamu akan datang? Apa kita bisa bertemu? Apa kita bisa menepati janji kita sepuluh tahun yang lalu?
Sunset berjalan sangat cepat. Dalam sekejap pantai ini sudah gelap. Namun, aku masih duduk di sini, di atas pasir pantai yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
Setiap sore menjelang sunset kita pasti berlari-lari di sepanjang pantai ini. Pantai yang menjadi halaman belakang rumah kita. Aku masih terlalu muda untuk memahami apa itu cinta. Bahkan saat sebelum aku menyadarinya, aku sudah jatuh ke dalamnya.
Kamu yang tinggal di sebelah rumahku. Kamu yang tidak pernah mau bergaul dengan siapapun di kampung itu kecuali denganku. Kamu yang suka melihat sunset. Kamu yang sangat suka dengan pasir pantai dan selalu menuliskan namamu di atasnya. Kamu yang suka mencipratiku dengan air laut. Kamu yang dulu aku sukai.
Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu padaku. Dan tidak pernah sekalipun aku menanyakan hal itu kepadamu. Aku hanya tahu kita sangat senang saat kita bermain bersama di pantai, saat kita menuliskan nama kita di atas pasir, dan saat kita melihat sunset.
Namun, kita tidak pernah bisa selamanya bermain di pantai. Ada saatnya kita harus kembali ke rumah. Setidaknya di situlah rumahku sampai sebelum aku tahu bahwa tempat itu bukanlah rumahku lagi.
Pagi itu, di ruang tamu rumahku, aku melihat papa, mama, kakek dan nenek berkumpul dengan wajah serius. Aku dan kakakku yang baru bangun tidur melihat mereka dengan tatapan bingung. Yang aku ingat hanyalah, papa mendapat promosi kerja dan harus pindah ke kota yang lebih besar di pulau lain. Mama, kakak dan aku harus ikut, meninggalkan kakek dan nenek di rumah itu. Saat itu aku tidak mengerti kenapa kita harus meninggalkan rumah yang nyaman dan pergi ke tempat yang kita sama sekali tidak tahu seperti apa?
Sore harinya saat aku bertemu denganmu dan menceritakan semua itu kepadamu, kamu pun hanya terdiam. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat itu atau perasaan apa yang kamu rasakan saat itu. Tapi, kamu hanya menulis namamu dan namaku di atas pasir pantai ini.
“Berapa lama kamu perginya?”
“Nggak tau.” Aku mengangkat bahuku.
“Sepuluh tahun?”
“Nggak tau.” Aku mengangkat bahuku lagi.
“10 tahun lagi… Kalau kamu belum balik ke sini… Gimanapun juga kamu harus balik ke sini!”, katamu dengan nada memaksa.
“Hah?”
“Kita bikin janji ya, sepuluh tahun lagi kita ketemu lagi di sini pas ulang tahunmu, terus kita liat sunset sama-sama.”
Kamu menuliskan sesuatu di atas pasir pantai.
Devon. Cherry. 10 tahun lagi. Ketemu bulan April. Ultah Cherry. Lihat Sunset.
 “Eh? Apaan ini? Kenapa ulang tahunku? Kenapa bukan ulang tahunmu?”
“Ulang tahunku masih lama. Ulang tahunmu kan lebih cepet”, jawab Devon sekenanya.
Aku tersenyum tipis mengingat hari itu. Bodoh, pikirku. Dasar anak-anak kecil yang bodoh. Aku terkikik sendirian. Aku berdiri dan beranjak meninggalkan pantai yang sudah gelap.
***
Aku menggenggam bunga mawar putih yang ada di tanganku dan berdiri berdampingan dengan sepupu-sepupuku di samping altar. Konsep garden party yang diinginkan kakakku terwujud dengan sangat indah. Garden dari sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah ini disulap menjadi semacam altar pernikahan garden party yang biasa aku lihat di film-film. Kakak memang selalu sempurna dalam merencanakan segalanya. Aku tidak akan bisa menandinginya. Aku tersenyum senang melihat kakak yang berjalan anggun menuju altar sedangkan papa yang berjalan di samping kakak malah tidak bisa berhenti menangis. Pemandangan yang sangat lucu.
“...Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia… atas dasar janji saudara berdua tersebut, maka saya teguhkan pernikahan saudara berdua”, ucap Pak Pendeta di depan altar.
Aku menghela napas lega. Acara pemberkatan pernikahan sudah selesai. Pesta pernikahan sudah dimulai. Aku menyelinap meninggalkan pesta pernikahan. Kakiku sudah cukup pegal memakai heels setinggi ini. Aku melepas high-heels-ku dan beranjak meninggalkan hotel. Tanpa sadar aku sudah sampai di pantai. Yah memang pantai ini letaknya ada di depan hotel tersebut.
Aku meluruskan kakiku di atas pasir. Aku lega kakak sudah menikah. Dan aku lega belum ketinggalan sunset hari ini. Tapi, apa dia akan datang? Apa dia akan melihat sunset bersamaku hari ini? Apa dia masih ingat janji kita? Apa kita bisa menepati janji kita dulu?
“Ehem.” Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di dekatku. Aku menatapnya dalam diam.
“Nonton sunset sendirian itu enggak enak”, katanya cuek sambil melipatkan kedua tangan di depan dadanya.
“Devon…? Kamu masih inget?”
Aku berdiri untuk melihatnya lebih jelas. Aku terlalu senang sampai hampir menangis.
Dia mengangguk dan tersenyum tipis. “Hm. Masih inget banget.”
Aku memalingkan mukaku. Aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Perasaanku terlalu campur aduk, aku tidak tahu apa yang aku rasakan.
“Kenapa kamu nggak dateng ke sini pas ulang tahunmu?”
Aku menatap laut. “Kamu tau kan aku nggak mungkin dateng…”, gumamku pelan.
“Aku tau. Makanya aku harus memaksamu dateng ke sini…”
Aku menatapnya dengan pandangan bingung.
“Pernikahan itu… Aku yang mengusulkan untuk diadakan seminggu setelah ulang tahunmu… Itu… supaya kamu mau dateng ke sini…”
Aku tidak percaya dengan hal yang baru saja aku dengar.
“Meskipun telat… Selamat ulang tahun, Cherry.” Devon mengulurkan tangannya padaku.
Aku menatap matanya dalam diam. Mata yang sama seperti dulu. Ya, semua tentangnya masih sama seperti dulu. Dia tidak berubah. Aku menyambut tangannya dan menggenggam tangan itu erat.
“Maaf, aku nggak bisa ngasih hadiah apa-apa, aku cuma bisa ngasih sunset itu…” Dia memalingkan kepalanya pada matahari yang terbenam di tengah laut. 
Aku menangis. Inilah pertama kalinya dalam hidupku melihat sunset yang paling indah sampai membuatku menangis. Dalam hitungan menit, matahari itu sudah terbenam, sunset itu sudah ditelan oleh laut. Aku melepaskan genggaman tanganku dan menghapus airmataku.
“Makasih ya.” Aku tersenyum memandangnya yang juga tersenyum.
Aku berjalan mendekatinya.
“Besok aku pulang. Tolong jaga baik-baik kakakku ya, kakak ipar.”
Aku menepuk bahunya dan berjalan meninggalkannya.
Aku tahu jawabannya. Pertanyaanku waktu itu, memang cuma kamu yang bisa menjawabnya. Akhirnya, aku bisa melangkahkan kakiku dengan ringan.

***
Dulu, kamu adalah rumah bagiku. Dulu kamu adalah rumah yang nyaman bagiku. Dulu, kamu adalah rumah bermainku. Namun, sekarang, aku tahu, aku tidak bisa selalu bermain. Aku tidak selalu tinggal di rumah yang nyaman. Ada saatnya aku harus berhenti bermain. Dan ada saatnya aku harus meninggalkan rumah lama yang nyaman itu lalu memulai kehidupan baru di tempat yang tidak aku tahu seperti apa.
Dan sekarang, bagiku, kamu adalah matahari terindah yang telah terbenam selamanya pada bulan April.   




-ultrautogia-

4 comments:

  1. halo, gak sengaja blogwalking dan tersinggah ke sini :) ceritanya manis, waktunya juga pas untukku karena di tempatku sudah sore.

    izin tilik blog mu lebih lanjut ya :) dan salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah membaca dan sudah komen di blog seadanya ini :)

    ReplyDelete
  3. woooowwwww....
    sumpah mak, aku gk tau msti komen apa....
    2 jempol buat kamu....
    rasanya pas baca tuh, aku trharu tpi lucu gmn gtu...

    ReplyDelete