Showing posts with label Kota Konyol. Show all posts
Showing posts with label Kota Konyol. Show all posts

Sunday, March 06, 2011

Gelembung dan Ayunan Tua

Angin berhembus lembut pagi itu, menggoyangkan bunga-bunga warna-warni di padang bunga kota konyol. Pohon-pohon besar dan rindang itu masih berdiri kokoh di sana, di ujung padang bunga, sebuah ayunan tua berdiri sendiri di antara pohon goofy dan pohon silly. Derak ayunan berkarat itu terdengar sayup-sayup seiring angin lembut yang meniupnya. Ayunan tua itu tampak dingin dan kesepian. Daun-daun kering berjatuhan ke atasnya. Dan, dia terlihat semakin terlupakan.
○○○
Gelembung-gelembung sabun beterbangan. Seorang anak kecil meniupnya dari atas bukit ke arah padang bunga. Dia berlari-lari kecil menuruni bukit, mengejar gelembung-gelembung yang ditiupnya. Tertawa kecil dan melompat-lompat kegirangan. Dia melambatkan langkah kakinya.
“Bunganya bagus… Warna-warni kaya gelembungku.” Ucapnya sambil tersenyum.
Dia berjalan pelan di sepanjang padang bunga sambil terus meniup gelembung sabun.
“Ada ayunan!” serunya saat dia hampir mencapai ujung padang bunga, dia berlari-lari ke arah ayunan warna-warni itu. Dia menaiki ayunan itu dan mencoba mengayunnya. Tapi, dia tidak bisa. Ayunan itu terlalu besar dan berat untuknya. Setidaknya ayunan itu harus dinaiki oleh dua orang supaya bisa mengayun dengan baik. Anak perempuan itu terdiam. Dia terduduk sedih dan mulai meniup gelembungnya lagi.
○○○
Matahari sore mulai berkilau kemerahan. Seorang anak kecil berlari-lari kecil di padang bunga sambil memetik beberapa bunga warna-warni itu. Dia membaringkan tubuhnya di atas hamparan bunga dan menciumi bunga-bunga yang dipetiknya. Kupu-kupu ungu beterbangan di atasnya.
“Ah…! Kupu-kupu!!!” Dia menaikkan kepalanya, bangun, dan mengejar kupu-kupu ungu itu. Mencoba menangkapnya tapi kupu-kupu itu terbang semakin tinggi. Dia sampai di ujung padang bunga, kupu-kupu itu terbang semakin tinggi lagi, dan akhirnya meninggalkan padang bunga.
“Yah…kupu-kupunya pergi…” ucapnya sambil terengah-engah. Gelembung-gelembung sabun beterbangan di sekitarnya.
“Gelembung???” ujarnya sambil mencoba menangkap salah satu gelembung. “Kok ada gelembung di sini?”
Dia menyusuri pohon-pohon yang berjajar di ujung padang bunga. Mencari asal gelembung-gelembung yang melayang-layang itu. Langkahnya terhenti saat dia melihat sebuah ayunan warna-warni dan seorang anak kecil seumurannya sedang duduk sendirian sambil meniup gelembung sabun. Mereka bertatapan dalam diam.
“Hai…” sapa Sally, anak perempuan yang berlarian mencari asal gelembung.
“Hai…” jawab Shila, anak perempuan peniup gelembung. Shila tersenyum.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Sally sambil menunjuk bangku ayunan yang masih kosong.
Shila mengangguk. Sally menaiki ayunan dan duduk di depan Shila.
“Nama kamu siapa?” tanya Shila.
“Aku Sally. Kamu siapa?”
“Shila.”
Mereka mulai mencoba mengayun ayunan. Shila tersenyum Hatinya senang karena dia menemukan teman yang mau mengayun ayunan bersamanya. Mereka berayun pelan di atas ayunan warna-warni itu.
Shila meniup gelembungnya. Bulatan-bulatan warna-warni transaparan itu terbang seiring angin yang meniupnya. Sally melihat gelembung-gelembung yang tertiup angin itu. Lalu, dia menatap Shila dan botol gelembungnya dalam diam.
“Kamu mau niup juga?” tanya Shila sambil tersenyum manis.
“Iya! Aku boleh pinjem?”
“Ini.” Shila menyerahkan botol gelembung sabun dan alat peniup gelembung pada Sally.
Sally meniup gelembung dengan semangat. Shila tertawa dan mencoba menangkapnya.
Sesaat ayunan mereka berhenti, lalu mereka mencoba mengayun lagi pelan-pelan. Shila ingin mengayun lebih kencang tapi Sally selalu merasa takut dengan ayunan yang mengayun kencang. Akhirnya, mereka hanya mengayun pelan-pelan. Mereka tersenyum dan tertawa bahagia. Menemukan teman yang mau mengayun ayunan bersama dan berbagi gelembung bersama.
Hari semakin gelap. Sally dan Shila beranjak dari ayunan dan berjanji akan bermain ayunan lagi esok hari. Persahabatan mereka terjalin di atas ayunan warni-warni bersamaan dengan beterbangannya gelembung-gelembung warna-warni di sebuah padang bunga warna-warni.
Waktu demi waktu yang bergerak, hari demi hari yang berlalu, bulan demi bulan yang beranjak, dan tahun demi tahun yang melaju telah memakan usia dan warna-warninya. Ayunan itu masih di sana. Dingin, kesepian dan terlupakan. Tak ada lagi yang datang untuk menemaninya mengayun bersama angin. Menjadi tua dan berkarat. Berayun dan berderak.
○○○
Pagi itu angin lembut masih berhembus seperti kemarin sore. Shila dan Sally berlari-lari di atas bukit sambil meniup gelembung. Kedua gadis itu berlari-lari kecil menuruni bukit menuju padang bunga warna-warni. Padang bunga itu masih sama seperti dulu, hanya terlihat lebih kecil. Bunganya juga sudah agak berkurang. Tapi, pohon-pohon di ujung padang bunga masih terlihat sangat rindang dan kokoh berdiri. Sally dan Shila memandang ke sekeliling padang bunga.
“Shila... inget nggak dulu waktu kecil kita sering maen di padang bunga ini.” kata Sally sambil memetik beberapa bunga.
“Iya. Udah lama banget kita nggak ke sini. Hmm… sejak… sejak… sejak kamu pindah ke sebelah rumahku! Kita jadi nggak pernah maen ke sini lagi. Kita jadi lebih suka maen di halaman belakang rumah…!”
Sally tertawa kecil. “Padahal waktu rumahku masih belum pindah kita sering ketemuan dan maen bareng di sini ya…!”
“Iya. Kita dulu sering maen gelembung, ngejar kupu-kupu, tidur di atas bunga-bunga, metik bunga-bunga, dan maen ayunan di sana.” ujar Shila sambil menunjuk sebuah ayunan tua dan berkarat di antara pohon goofy dan pohon silly.
Mereka saling memandang, tersenyum kecil, lalu cepat-cepat berlari ke ujung padang bunga.
Sally dan Shila terus-terusan tertawa konyol dan bahagia. Mereka sampai di ayunan tua itu.
“Warnanya luntur, udah berkarat, bunyi juga…” ucap Shila pelan. Dia masih menggenggam botol gelembung sabun di tangan kanannya dan peniup gelembung di tangan kirinya. Dia menaiki dan duduk di salah satu bangku ayunan berkarat itu.
“Eh, shil… emang nggak apa-apa? Kalo tau-tau rusak atau jatuh gimana?” tanya Sally agak ketakutan.
“Nggak apa-apa. Udah… naik aja!”
Sally memandang ayunan ragu-ragu. Lalu, menaikinya pelan-pelan. Dia duduk di bangku ayunan di depan Shila. Sally meletakkan botol gelembung dan alat peniup di sampingnya dan mulai berpegangan pada ayunan.
“Nggak apa-apa, Sall… masih bisa ngayun kok.” Ujar Shila sambil mencoba mengayun ayunan.
“Jangan kencang-kencang! Aku takut…” pinta Sally.
“Iya, aku tau!” Shila mengayun ayunan perlahan-lahan. “Kayanya dulu ayunan ini lebih besar dan berat banget buat diayun. Tapi, sekarang menyusut dan jadi ringan ya…”
“Kita yang jadi besar dan lebih kuat…” timpal Sally sambil terus berpegangan pada ayunan.
“Udah, ah! Jangan pegangan gitu terus…!” suruh Shila sambil meniup gelembung sabun ke wajah Sally.
“Ah…! Shila!!!” Sally melepas pegangannya, mengambil botol gelembung dan alat peniup gelembung, lalu meniup gelembung ke wajah Shila.
Mereka tertawa konyol dan bahagia hari itu. Mengenang masa kecil mereka. Mengenang awal pertemuan dan persahabatan mereka. Mengenang masa lalu di atas ayunan tua itu.
“Kita harus sering-sering ke sini. Kalo perlu kita ajak anak-anak kecil di kota konyol buat maen ke sini. Kayanya mereka jarang malah nggak pernah maen ke sini. Padahal, dulu ini tempat maen kita.” ucap Sally penuh semangat.
“Iya! Padahal tempat ini bagus juga buat maen-maen. Walaupun bunga-bunganya udah agak berkurang sich… Ayunannya juga udah berkarat… Tapi tetap aja tempat ini masih indah dan menyenangkan.” tambah Shila.
○○○
Ayunan itu masih di sana. Berayun dan berkarat. Namun, dia tidak lagi sendiri. Tidak lagi dingin dan kesepian. Tak lagi terlupakan. Persahabatan Sally dan Shila menumbuhkan lagi keceriaan, kekonyolan, dan kebahagiaan di padang bunga warna-warni yang telah lama hilang. Lalu, ayunan tua itu kembali berayun konyol dan berderak dengan lebih merdu ditemani gelembung-gelembung yang melayang-layang di udara.

Sunday, February 27, 2011

Surat Konyol

Pagi yang cerah di kota konyol. Pagi yang sangat baik untuk memulai sebuah hari. Kota konyol, kota yang tidak pernah sepi dengan kekonyolan para penduduknya. Festival Buah hari itu sangat meriah. Meskipun dengan ciri khas kekonyolan masing-masing penduduk namun mereka tetap bersemangat mengikuti Festival Buah tersebut.
Sally dan beberapa temannya sedang menanam *buah konyol ketika seekor **burung konyol terbang ke arah Sally. Di leher burung tersebut tergantung sebuah surat kecil dan sebuah pena. Sally membuka suratnya dan membacanya

Aku udah di festival buah. kamu sama yang lain dimana?

Sally menuliskan sesuatu ke atas surat itu

Aku di kebun, sebelah kiri stand buah-buahan. Kamu ke sini aja.

Sally melipat suratnya lalu menggantungkan surat dan pena ke leher burung konyol dan menerbangkannya. Setelah burung itu terbang menjauh, Sally melanjutkan lagi usahanya menanam buah konyol. Begitulah cara penduduk konyol berkomunikasi jarak jauh. Surat-menyurat melalui burung konyol. Dan mereka menyebutnya surat konyol.
“Sally.”, panggil Shila sambil membawa seember tanah bercampur pupuk. “Ini.” Shila menyerahkan ember pada Sally.
“Kamu nggak ikutan nanam?”, tanya Sally.
“Hehehe…” Shila terkekeh. “nanti aja. Aku mau makan buah-buahan dulu sama temen-temen di sana.” Shila berlari-lari kecil menghampiri beberapa temannya yang sedang memakan buah-buahan.
“Dasar…”, gumam Sally.

●●●

Offy berjalan perlahan menghampiri Sally. Lalu, berjongkok di sebelahnya.
“Hai.”, sapanya. “udah lama? Tadi aku udah ke sini, tapi belum ada yang nanam-nanam di sini.”
“Nggak kok, baru aja.”, jawab Sally sambil terus menanam buah konyol.
“Sini aku bantuin. Aku juga pengen nyoba nanam.” Offy mengambil sekop dan tanah bercampur pupuk. Dan mereka menanam buah konyol bersama-sama.
Shila membawa dua buah konyol yang sudah matang di kedua tangannya. Berjalan menghampiri Sally berniat memberikan salah satu buah konyol untuk Sally.
Deg! Jantungnya serasa hampir berhenti berdetak. Lagi-lagi perasaan itu menyergap hatinya. Terhenti, tertegun, dan terdiam sesaat. Shila tidak tahu harus berbuat apa. Buah konyol itu masih digenggamnya erat. Sally dan Offy tertawa konyol dan bercanda bodoh sambil menanam buah konyol bersama.
Shila menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengatur perasaannya. Berjalan perlahan menghampiri mereka.
“Hai,” sapa Shila. “Ini buah buat kalian berdua. Dimakan ya…” Shila menyerahkan buah konyol tersebut pada Sally lalu tersenyum pada keduanya dan beranjak meninggalkan mereka.
“Aahh… Shila! Mau ke mana?”, tanya Sally. “kamu nggak ikut nanam?”
“Nggak… hmm… aku mau ke stand buah konyol aja. Tadi aku disuruh bantuin di sana.”, jawab Shila tanpa menoleh. Lalu, berjalan menjauhi mereka.
Sally memandang Shila yang semakin menjauh dengan bingung. Sally menoleh, melihat Offy yang sibuk menanam dengan bingung juga.

●●●

“Kenapa jadi gini lagi? Harusnya aku nggak boleh ngrasa kaya gini lagi!”, batin Shila. Dia duduk sendirian di stand buah konyol. Tiba-tiba seekor burung konyol terbang ke arahnya. Shila membuka surat yang menggantung di leher burung tersebut.

Masih di festival buah? Aku mau ke sana.

Shila mengambil pena yang menggantung di leher burung konyol lalu membalas surat tersebut.

Masih. Cepet sini. Kamu dimana? Aku di stand buah konyol.  

Shila menggantungkan pena dan surat itu ke leher burung konyol lalu menerbangkannya.

●●●

Beberapa menit kemudian, Shila yang ketiduran di stand buah konyol, terbangun karena suara ribut dari teman-temannya yang mulai berdatangan ke stand buahnya. Sally dan Offy juga mengekor di belakang mereka.
“hoahmmm…”
“Kamu dari tadi sendirian di sini?”, tanya Sally.
“hoahm… hiyah…”, jawab Shila sambil terus menguap.
“Yang lain pada ke mana?”, tanya Sally lagi.
“Nggak tau. Masih nanam-nanam mungkin.”, jawab Shila masih setengah sadar.
“Fygoooo…”, teriak beberapa teman Shila dan Sally tiba-tiba ketika Fygo datang.
“Haiiiiii…”, jawab Fygo sambil melambaikan tangan dengan gaya yang sangat bodoh.
Sally menatap Fygo bingung. Mulutnya serasa terkunci melihat kedatangan Fygo yang sangat tiba-tiba.
Fygo duduk di sebelah Offy dan memakan buah konyol, ngobrol dan tertawa-tawa konyol bersama.
Shila dan Sally saling bertatapan. Terdiam penuh makna.
Plak!
“Aow!!!”, teriak Shila tiba-tiba.
Fygo tertawa. Plak! Lagi-lagi dia melempar biji buah konyol ke kepala Shila.
“Fyyygggooo!!!” Shila mengambil biji buah konyol dan melemparkannya pada Fygo. Fygo berlari menghindar sambil terus tertawa konyol. Shila mengambil segenggam biji buah konyol dan berlari mengejar Fygo. Mereka terus berlari menjauh dari stand buah konyol. Shila terlihat masih berusaha melempari Fygo dengan biji buah konyol. Sally terdiam dan terduduk lesu di sebelah Offy.
“Kenapa sich? kok diem? ”, tanya Offy. “Sini, sini makan buah konyol sama Offy…” Offy menyodorkan buah konyol ke muka Sally. Sally tersenyum tipis dan mengambil buah tersebut.
“Makasih ya, Offy…”

●●●

Matahari sore mulai terbenam di balik bukit konyol yang berwarna kemerahan. Sally berjalan pulang beriringan bersama Shila. Rumah mereka memang bersebelahan, hanya dipisahkan oleh sebuah pagar tanaman bunga yang berwarna-warni saja. Sally membawa sekeranjang buah konyol dan Shila menenteng seember alat-alat menanam.
Sally meletakkan keranjang buahnya. Shila juga meletakkan alat-alat menanamnya. Sally mengambil beberapa buah konyol dan memberikan pada Shila.
“ini buat kamu.”, kata Sally. “kita bagi dua buah-buahannya.”
“Okai. Masukin aja ke ember sini.”, jawab Shila. “makasih ya…”
Sally memasukkan buah-buahan itu ke dalam ember. Shila mengangkat embernya dan berniat berjalan menuju rumahnya. Tapi dia menghentikan langkahnya. Meletakkan embernya dan menghampiri Sally lagi.
“Hmm… Sall… maaf buat yang tadi… aku ngrasa nggak enak sama kamu… sebenernya tadi… hmm… Fygo ngirimin aku surat konyol, trus aku bales… aku nyuruh dia dateng ke stand buah konyol. Aku juga ngrasa bersalah sama kamu karena tadi kejar-kejaran sama Fygo pake lempar-lemparan biji buah konyol segala. Maaf banget ya Sall…”
Sally tersenyum.
“Shila… kok malah jadi gini sich? Nggak apa-apa, shil… aku tau. Aku udah biasa aja koq.” Sally menepuk bahu Shila.
“Bener?” mata Shila berbinar-binar.
“Iya. Asal kamu tau aja ya, sebenernya aku juga yang nyuruh Offy dateng ke kebun tempat nanam buah konyol tadi. Karena aku kirain kamu mau ikutan nanam juga…”, kata Sally sambil menunduk.
“Oh… itu… iya, tadi aku agak kaget aja, tau-tau Offy ada di situ. Tapi, udahlah. Biarin aja. Aku juga udah biasa aja koq.”
Mereka berdua tersenyum.
“Kenapa kita bisa suka sama orang bodoh seperti mereka?”, tanya Sally.
“Karena kita konyol…!!!”, jawab Shila.
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA~~~!!!” Mereka tertawa, terbahak, dan tergelak.
Sekali lagi, kehidupan di kota konyol, segala sesuatu hanyalah kekonyolan dan kebodohan saja.










*Buah Konyol : Buah asli kota konyol, buah berwarna pink keunguan, rasanya manis, bentuknya mirip buah stroberi, hampir seukuran buah jeruk tapi jauh lebih besar. Bijinya keras, warnanya hitam dan sebesar biji buah salak. Semua penduduk kota konyol menyukai buah ini. Karena setelah memakan buah ini akan merasa sangat konyol dan bahagia*

*Burung Konyol : Burung asli kota konyol, banyak terdapat di kota konyol, mirip burung merpati, tapi burung ini berwarna-warni dan bisa berubah-ubah warna sesukanya. Di lehernya selalu tergantung sebuah botol kaca kecil yang berisi surat dan pena. Burung ini selalu tahu arah dan tujuan yang tepat untuk surat yang dibawanya dan bisa dipanggil sewaktu-waktu dengan menggunakan sebuah lonceng konyol yang berwarna keperakan yang bunyinya nyaring dan sangat merdu.**

Friday, February 25, 2011

Perang Dingin


Malam itu, malam yang sangat larut di kota konyol, sebuah kota yang dihuni oleh penduduk yang sebagian besar konyol dan sisanya bodoh. Malam dingin saat itu, kota konyol masih saja ramai dengan kekonyolan dan kebodohan para penduduknya. Hari itu adalah peringatan ulang tahun kota konyol, yang kesekian konyol tahun.

♥♥♥♥

Shila memandang Sally, geram. Tubuhnya yang sudah capek, moodnya yang sudah jelek, dan matanya yang sudah terasa pedih menambah amarah yang membuncah di hatinya.

Shila duduk merenung di pinggir danau konyol. Dia merasa sangat sendiri saat di sekitarnya banyak sekali orang yang berpesta dan bersenang-senang. Kejadian ini sangat membuatnya kesal.
“Kenapa jaket abu-abu Offy dipake Sally? Kenapa bukan aku yang make jaketnya?”
Shila masih terus memandangi Offy dan Sally yang duduk bersebelahan di seberang danau. Mereka berdua tampak sangat akrab dan bahagia. Senyum dan tawa tak lepas dari wajah mereka. Sedih. Sakit. Perih. Pedih. Hanya itu yang terus-menerus menghujam hatinya. Seorang sahabat yang kejam dan tega. Hanya itu yang terlintas di pikiran Shila. Lampu-lampu yang berkelap-kelip di sekitar danau konyol dan bintang-bintang yang berkedip-kedip di atas langit kota konyol tak juga bisa menerangi sisi hatinya yang mulai gelap.

“Nih…” tiba-tiba saja seseorang menyodorkan sebuah kembang api padanya. “ayo, maen kembang api! Daripada bengong di sini kaya orang konyol dan bodoh.”
“Hah? Kita khan emang hidup di kota konyol ! Dasar Bodoh !”, jawab Shila pada Fygo, cowok yang menyodorkan kembang api padanya.
Akhirnya, Shila dan Fygo berlari mengelilingi danau konyol sambil bermain kembang api. Shila mencoba melupakan kejadian tadi. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengembalikan moodnya dan semangatnya. Tersenyum dan tertawa lagi.

♥♥♥♥

Di sisi lain danau konyol. Sally pun memandangi Shila dengan geram. Sally benci senyum dan tawa Shila malam itu. Sally benci teriakan bahagia Shila malam itu. Hatinya serasa diiris-iris. Dicabik-cabik oleh sahabatnya. Sedih. Sakit. Perih. Pedih.
“Kenapa Shila yang main kembang api sama Fygo? Kenapa bukan aku yang maen kembang api sama Fygo?”
Matanya menerawang jauh ke tempat Shila dan Fygo berlari-lari dan bermain kembang api.
“Arrrghhhh!!!!”, teriaknya.
“Kamu kenapa Sal?”, Tanya Offy kaget.
“Nggak pa-pa. Cuma terlalu berisik aja di sini.”, kata Sally. “Aku mau pulang aja.”
“Kok pulang? Di sini aja!”
Sally beranjak meninggalkan danau konyol. Berjalan cepat tanpa mempedulikan kekonyolan di kota konyol.

♥♥♥♥

Matahari yang hangat menyambut penduduk kota konyol. Namun, sebagian besar dari mereka masih terlelap karena kekonyolan mereka pada pesta perayaan ulang tahun kota konyol semalam.

Shila berjalan menaiki bukit. Menuju ke sebuah pohon paling besar dan paling rindang di puncak bukit tersebut. Dia mulai membuka bukunya. Menulis lagi segala sesuatu yang ingin dia tulis. Udara pagi itu benar-benar menyegarkan pikirannya. Walaupun, semalam dia masih merasa sakit, sampai-sampai tidak bisa tidur nyenyak. Beruntung dia masih bisa tertawa karena bermain kembang api dengan Fygo.

Sally membawa alat-alat melukisnya. Dia berjalan menaiki bukit. Menuju ke pohon paling besar dan paling rindang di puncak bukit. Tanpa menyadari bahwa Shila berada di sisi lain dari pohon itu, Sally mulai melukis peristiwa malam dingin itu, malam dimana hatinya sangat sakit dan terluka. Beruntung, semalam udara dingin tidak menusuk tubuhnya karena jaket abu-abu Offy sudah menghangatkan tubuhnya.



“Huuuuffffftttt…” Shila dan Sally menghela nafas mereka.
Mereka tersadar. Mereka tidak sendirian.
“Sally?”
”Shila?”
“Ngapain kamu di sini?”, Tanya Sally sinis sambil berdiri di tempatnya duduk tadi.
“Kamu yang ngapain di sini?”, Tanya Shila lebih sinis juga sambil berdiri di tempatnya duduk tadi.
“aku lagi nglukis!”
“Aku lagi nulis!”
“Ya udah!”, ujar Sally emosi.
“Ya udah!”, Shila juga emosi.
Mereka duduk lagi dan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Terdiam dan tenang cukup lama.

“Semalem kamu kemana? Aku nyariin kamu kemana-mana?!!”, Shila membuka percakapan dengan nada sinis.
“Harusnya aku yang tanya, kamu itu yang kemana?!?”, jawab Sally nggak kalah sinis.
“Kenapa kamu jadi sinis gitu sich?”, tanya Shila
”Kamu juga!”
Mereka terdiam lagi.

“Aku kesel sama kamu Sall…!!! Semalem kamu malah duduk berduaan sama Offy, ketawa-ketawa, make jaketnya Offy pula!”, ujar Shila emosi. “Kamu khan tau aku suka sama Offy, tapi kamu malah kaya gitu!!!”
Sally menjawab pernyataan Shila dengan kesal. “Aku juga kesel sama kamu! Keselll banget sama kamu!!! Sakit hati tau nggak ngliat kamu maen kembang sambil lari-larian sama Fygo!!! Kamu juga tau aku suka Fygo! Tapi, kenapa kamu malah gitu?”

Mereka terdiam lagi. Berpikir. Mencoba menyadari sesuatu.

“Hmm… Shil… kamu salah paham. Semalem, aku nungguin kamu di pinggir danau. Nggak taunya, ketemu Offy. Trus, aku bilang sama Offy kalo aku kedinginan, tau-tau dia minjemin jaketnya. Lagian, salah kamu juga sich… datengnya lama banget ! Ya udah aku duduk, ngobrol-ngobrol sama Offy ! Eh, udah aku nunggunya lama, kedinginan pula, kamu malah enak-enakan maen kembang api sama Fygo!!!”

Shila dan Sally saling mendekat. Mereka duduk bersebelahan.

“Hhh… ternyata gitu? Masalah kembang api itu… kamu juga salah paham!”, Shila memanyunkan bibirnya. “Semalem, waktu aku sampe di danau, aku nyariin kamu… tapi, aku malah liat kamu duduk berduaan sama Offy, trus jaketnya Offy kamu pake juga. Aku jadi males ke tempatmu. Ya udah, aku duduk di seberangmu. Kamu pasti nggak liat aku! Waktu aku lagi duduk sendirian, tau-tau si Fygo dateng ngajak aku maen kembang api. Yah… daripada aku sakit hati ngliatin kalian berdua… mending aku maen kembang api!!!”
Mereka terdiam lagi. Mengatur perasaan mereka masing-masing. Mencoba mengerti sesuatu.

Mata mereka bertemu. Lalu, tertawa terbahak-terbahak. Tergelak.
“Jadi kita perang dingin kaya gini cuma gara-gara salah paham?”, kata Shila di sela-sela tawanya.
“Kita emang konyol dan bodoh!”, timpal Sally. “Koq bisa jadi gini sich?”
“Hahahahahaha!!!” tawa berderai dari kedua penduduk kota konyol tersebut.
“trus, kamu nulis tentang apa itu?”
“tentang kejadian semalem, waktu aku liat kamu berduaan sama Offy. Mmm… Kalo kamu nglukis apaan?”
“aku nglukis kamu sama Fygo waktu maen kembang api.”
“bwakakakakakakakakak!!!!” mereka terbahak dan tergelak lagi.
“Dasar konyol!”
”Dasar bodoh!”
“Aha! Aku jadi punya ide!”, seru Shila. “gimana kalo kita tukeran aja? Kamu jadi suka sama Offy, trus aku jadi suka Fygo! Lagian aku juga agak nggak nyambung sama Offy, malah lebih nyambung sama Fygo.”
Mereka bertatapan lagi. Sally memandang Shila bingung.
“Nggak koq! Bercanda…”, seru Shila kemudian.
“Hahahahahahahahahahahahahahahahahahaha……………”
“iya juga sich… aku juga agak nggak nyambung sama Fygo, lebih nyambung sama Offy…!”, ujar Sally di tengah-tengah tawanya.
“Hah? Apa?”, Shila memandang Sally kaget.
“Nggak koq, bercanda juga!!!”
“Bwakakakakakakakakakakakakakakakakakakak………………”
Mereka tertawa lagi dan lagi. Menertawakan kekonyolan dan kebodohan mereka. Betapa konyolnya hidup di kota konyol. Segala sesuatu hanyalah sebuah kekonyolan dan kebodohan.