Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Wednesday, December 04, 2013

Take Me All The Way


Eye to eye. Skin to skin.
He could see through my blue eyes. He could touch my fair skin.
Ear to ear. Lips to lips.
He could listen to my soft voice. He could kiss my smooth lips.
"I wanna be with you forever." I said to him.
"Me too." He answered me.
"But we can't." My voice triggered.
He stayed silent.
"I must go. You know, I can't stay here forever." I said to him as I stroke his hair.
"Then, take me with you..."
"No, you can't go back if you go with me..."
"Well, that's okay. I don't wanna go back as long as I'm with you. Take me all the way."
I smirked. "Are you sure? Then, close your eyes."
He closed his eyes for few seconds, the moment he opened his eyes, he's really with me.
"Now, you're with me. In my world. In the mirror. In the world of shadows." I said as I embraced him. " We can love each other forever."


-ultrautogia- 
#FF2in1

Wednesday, September 25, 2013

Bernafas Untuknya.

Aku melihat bayanganku di dalam cermin.
Sama.
Aku melihat bayangannya di dalam cermin.
Sama.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. Berat. Terasa sangat berat.
Kabut tebal tampak menggantung di udara malam ini. Dingin. Aku merasa sangat kedinginan.
Semua terasa membeku.
Dia menggenggam tanganku. Kulit yang lembut itu menyentuh kulitku. Dingin. Aku masih saja merasa kedinginan.
Perasaanku terasa membeku.
Aku memeluk tubuhnya dan dia mendekapku dalam dadanya. Aku mendengar detak jantungnya yang stabil.
Namun, aku masih merasa dingin dan membeku.
Kita masih sama. Kita tidak berubah.
Tapi, jauh di dalam sana, sesuatu sudah berubah di antara kita.
"Jadi, kita harus mengakhirinya hari ini?", bisikku pelan.
"...Iya...", jawabannya terdengar berat dan tertahan.
"Benar-benar mengakhirinya?", tanyaku lagi.
"Maaf, aku harus melakukan ini demi keluargaku... Hanya dengan menikahi perempuan itu maka keluargaku akan..."
"Aku tahu... Menikahlah dengannya.", kataku sambil melepas pelukannya.
Dia masih menggenggam tanganku. Tatapan matanya yang dalam masih sama. Namun, perasaannya sudah jadi dingin.
"Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.", ujarku sebelum dia pergi meninggalkanku.
Ya, aku tidak akan mengganggumu lagi, tidak akan mencarimu lagi, tidak akan mengharapkanmu lagi.
Aku tidak akan lagi bernafas untukmu.
Aku hanya akan bernafas untuknya.
Untuk bayimu yang sekarang bernafas di dalam kandunganku.



-ultrautogia- 
FF2in1

Wednesday, September 04, 2013

Cinta Tak Kasat Mata



Dia adalah mahkluk paling sempurna yang pernah ada dalam hidupku. Kecantikannya tidak tertandingi apapun yang ada di dunia ini. Matanya yang bulat, hidungnya yang mungil, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang panjang tergerai, dan tubuhnya yang tinggi dan langsing. Dia adalah kesempurnaan yang diciptakan Tuhan hanya untukku. Itulah gambaran tentang dirinya di mataku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan bertemu dengannya hari itu. Saat aku merasa duniaku sudah hampir saja hancur karena sebuah kecelakaan mobil. 
Dia datang menghampiriku dan mewarnai hidupku lagi. 
Dia menerimaku apa adanya meskipun aku bukan lagi manusia sempurna. 
Dia melengkapi hidupku dan membuatku kembali merasa sempurna. 
Dia membuatku mengenal arti cinta yang sebenarnya. 
Dia membawaku untuk percaya pada cinta yang tak dapat dilihat secara kasat mata. 
Dia mengajariku untuk percaya walau tanpa melihat. 
Ya, mata kami berdua buta. 


-ultrautogia-
#FF2in1

Americano Bukan Caramel Macchiato


Lonceng pintu kafe bergemerincing saat seseorang memasuki kafe ini. Sosok lelaki itu berjalan menuju meja pemesanan. Mataku tidak berhenti menatapnya. Ya, dialah alasanku selalu datang ke kafe ini. Lelaki itu berjalan menuju meja yang ada di seberangku dan duduk menghadapku. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku melihat ke dalam cangkirku yang berisi kopi Americano. Aku menyesap Americano-ku, seketika rasa pahit menjalari indera perasaku dan mengalir masuk ke dalam tubuhku. Aroma dan rasa yang kuat Americano ini tiba-tiba saja menguasaiku dan membuatku selalu ingin merasakannya lagi dan lagi. Sama seperti dirinya yang tiba-tiba saja datang ke kafe kecil ini dan membuatku ingin selalu bertemu dengannya lagi dan lagi. Namun, aku bukanlah Americano yang memiliki aroma dan rasa yang kuat. Aku tidak memiliki keberanian yang kuat untuk sekedar menyapa atau menanyakan namanya. 
"Silahkan pesanan anda, Hot Caramel Macchiato.", kata pelayan saat mengantar pesanan kepadanya. 
Dia selalu memesan kopi yang sama, Caramel Macchiato
Setelah satu jam duduk di hadapanku, lelaki itu beranjak dari mejanya dan berjalan keluar kafe. Aku melihatnya berjalan semakin menjauh. 
"Hey, Caramel Macchiato... Seandainya kau tahu perasaanku, seandainya kau merasakan hal yang sama denganku... Aku harap kau merasakan hal yang sama denganku...", gumamku pelan. "Aku suka Americano, bukan Caramel Macchiato..." 

-ultrautogia-
#FF2in1

Tuesday, August 13, 2013

Biarkan Mata yang Berbicara.



Aku menangkapnya dengan mataku. Dalam diam, mataku terus berbicara dengannya. Memancarkan sejuta kekagumanku padanya.
Dia menangkapku dengan matanya. Satu kali, dua kali, tiga kali. Satu detik, dua detik, tiga detik. Setiap kali. Setiap detik.
Setiap kata yang aku ucapkan melalui mataku, entah dia dapat mendengarnya atau tidak, aku ingin dia menangkap mata ini, aku ingin terus menangkap matanya. Aku ingin berbicara dengannya melalui mataku.
Aku tidak mengerti setiap kata yang dia ucapkan melalui matanya. Namun, aku ingin dia melihat mataku dan membaca setiap kata yang tertulis di dalam mataku.
Bibir kami diam. Tapi, mata kami saling berbicara. Tatapan mata yang sekilas ada, sekilas hilang, sekilas datang, dan sekilas pergi seperti sebuah bahasa sederhana yang tercipta dalam sebuah keheningan.
“Hei,” Aku mencoba menyapanya dengan mataku.
“Hei,” Sayup-sayup terdengar suara balasan.
Dalam sebuah tatapan sekilas dan kedipan perlahan… dia membalas sapaanku.
Di sudut bibirnya terkembang sebuah senyum tipis. Aku membalas dengan tatapan dalam dan lama padanya.
Sejak saat itu, aku terperangkap dalam matanya dan dia terperangkap dalam mataku.
Mata kami tidak hanya bisa melihat, tapi juga bisa berbicara, membaca, mendengar, memikirkan, dan merasakan semua hal yang kami alami satu sama lain.
Kami menjadi satu dalam dua buah pasang mata.


-ultrautogia-


Wednesday, July 10, 2013

Malam Ini Untuknya dan Besok Malam Untukmu.


Gadis itu menangis di dalam kamarnya seorang diri. Aku berjalan menghampirinya dan duduk di dekatnya dalam diam. 
"Maafkan aku."
Gadis itu menangis semakin kencang. 
"Maaf, aku tidak bisa seterusnya di sisimu. Aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu. Tapi aku..."
Dia memandangku dengan mata sembabnya. 
"Kamu jahat. Kenapa kamu tega sama aku?" Airmatanya menetes. "Kamu pergi kemana aja?"
"Ah... aku pergi ke rumahnya... Begini... Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Karena itu aku..." 
Gadis itu memelukku. "Aku mencarimu kemana-mana. Jangan pergi lagi ya." 
Aku diam dalam pelukannya. 
Dia memelukku semakin erat. 
"Maaf...", kataku kemudian. "Aku menyukaimu, tapi aku juga menyukainya. Aku tidak bisa membohongi hatiku." 
Aku meronta dan melepaskan pelukan darinya. 
"Kamu mau kemana?", teriaknya. 
Aku berlari dan melompat dari jendela kamarnya. 
"Aku harus pergi menemuinya malam ini. Besok malam aku akan menemuimu lagi."
"Jangan pergi!!", teriaknya semakin kencang saat aku berjalan semakin jauh. "Manis, jangan tinggalkan aku!" 
"Aku tidak meninggalkanmu!!", balasku berteriak lebih kencang darinya. Tapi baginya suara yang sedari tadi keluar dari mulutku hanyalah terdengar "Meong meong meong meong meong" saja. 
Aku menghela nafas panjang lalu menghilang dalam kegelapan malam. 


-ultrautogia- 
FF2in1

Kau adalah Telinga dan Tembokku.


Kau adalah telinga. Telinga yang mendengarkanku. 
Begitulah kalimat yang meluncur dari mulutnya. Aku masih sangat muda. Tidak tahu apa maksudnya. Tapi, aku senang. Aku senang dia selalu berbicara denganku. Aku senang dia selalu mencariku. Aku senang dia membutuhkanku. Aku yang selalu merasa tersesat di dunia ini bagaikan seekor kucing liar di pinggir jalan, hanya dia yang menemukanku, hanya dia yang mau memungutku, hanya dia yang mau datang padaku. 
Aku sangat bahagia. Pada saat itu. 
Kau adalah tembok. Tembok yang mendengarkanku.  
Pepatah cina mengatakan bahwa jika kamu tidak punya seseorang yang bisa kamu ajak bicara, berbicaralah pada tembok, tembok pasti mendengarkanmu. 
Begitulah kalimat yang keluar dari bibirnya. Aku tertegun. Aku selalu mendengarkannya. Mendengarkan ceritanya tentang wanita itu. Setiap hari. Setiap malam. Setiap saat. Kapanpun dia mau. Aku selalu ada untuknya. Apa dia tahu itu menyakitkan bagiku? Aku memang tidak boleh berbicara. Aku hanya mendengar. Tapi, hal ini lama-lama menyakitkan untukku. Apa tidak bisa sekali saja dia mendengar ceritaku? Aku juga ingin bercerita tentangku. Tentang aku dan dia. 
Tak sedetikpun dia membiarkanku berbicara. 
Tetap saja aku hanya telinga dan tembok untuknya. 
Meskipun dia menemukanku. Dia menyelamatkanku dari dunia yang sesat ini. Aku tidak mau hanya menjadi telinga dan temboknya. 
"Selamat tinggal.", kataku padanya malam itu. 
Keesokan harinya, dia kehilangan telinga dan temboknya. Sejak saat itu, dia tidak bisa berbicara pada siapapun. Sejak saat itu, aku adalah masalah terbesar dalam hidupnya yang tidak pernah dia ceritakan pada siapapun. 



-ultrautogia- 

FF2in1

Thursday, February 21, 2013

Bertukar Kehidupan


Seandainya kita dapat bertukar kehidupan, batinku. 
"Kamu mau?" tanyanya. 
Bagaimana kamu bisa mendengar suara hatiku?, batinku, sangat terkejut. 
"Tentu saja aku bisa, kita ini kan satu." ujarnya.
Ah, iya, benar juga! batinku lagi. Kalau kita bertukar kehidupan, apa kamu nggak akan menyesal? 
Bibirnya mengembang. "Tentu aja enggak! Aku malah pengen hidup di duniamu. Duniaku terlalu sempit. Aku bosan selalu menjadi bayang-bayang orang lain. Aku ingin punya kehidupanku sendiri." 
Tapi, hidup di duniaku tidak semudah  dan seenak yang kamu pikir. Banyak orang-orang jahat, orang-orang bermuka dua, orang-orang munafik yang bersembunyi di balik bayang-bayang kepalsuan. 
"Setidaknya mereka tidak terperangkap dalam dunia sempit seperti ini." Dia melihat ke atas ke bawah ke kanan dan ke kiri. 
Aku menghela napas. Baiklah. Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, ayo kita bertukar kehidupan. Aku juga sudah lelah hidup di sini. 
"Beneran? Kamu serius? Kamu nggak menyesal?" tanyanya dengan penuh semangat. 
Ya, hanya untuk sementara saja. Aku ingin beristirahat sebentar dari kehidupanku yang seperti ini, jawabku. 
Senyumnya merekah. Kami menyatukan tangan kami, begitu juga dengan kepala, tubuh, dan kaki kami. Kami memejamkan mata. Tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja saat itu seakan duniaku jadi berputar dan terbalik. Saat aku membuka mata semua masih terlihat sama. Dia di sana dan aku di sini. Tidak ada yang berubah, setidaknya itu yang terlintas di pikiranku. 
"Kita udah bertukar kehidupan!" Dia berteriak senang.
Benarkah? tanyaku tidak yakin. 
"Mulai sekarang aku akan jadi kamu. Dan... jangan harap aku mau kembali ke tempat itu. Nikmatilah sisa hidupmu di sana!"  Dia menatap mataku tajam dan nada bicaranya berubah kejam. Sesaat kemudian dia beranjak meninggalkanku.   
Tunggu! Tunggu! Jangan pergi! Aku berlari mengejarnya tapi tubuhku menabrak sesuatu yang tak terlihat.
Tidak! Tidak mungkin! Kami benar-benar bertukar kehidupan! Tidak mungkin! Tidak!!! 
Kembalikan kehidupanku!
Aku telah terperangkap dalam cermin ini. Kini aku menjadi bayang-bayangnya.
Menjadi bayang-bayang dari bayang-bayangku sendiri. 


-ultrautogia- 

Wednesday, February 20, 2013

Janji Papa


"Janji ya nggak akan ninggalin aku?" Dia menyodorkan kelingkingnya padaku.
Senyumku terkembang. "Janji." Kami mengaitkan jari kelingking kami. Sebuah tanda perjanjian bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya.
Sesaat kemudian dia memasuki ruangan itu.
Sepuluh tahun sudah dia rutin menjalani perawatan di sini. Sepuluh tahun sudah aku menemaninya. Tidak pernah sekalipun aku meninggalkannya. Sepuluh tahun sudah aku berjanji padanya. Sepuluh tahun sudah aku selalu menepati janjiku padanya dan akan selalu menepati janjiku sampai kapanpun.
Aku mendekap kertas kecil berwarna pink itu. Airmataku menetes. Istriku memelukku dalam diam, perlahan aku mendengar isak tangisnya. Kami berdua bersimpuh di depan tempat peristirahatannya yang kekal.
Hanya sepucuk surat yang dia tinggalkan padaku bertuliskan pesan singkat:

Terima kasih papa, karena selalu menemaniku dan nggak pernah ninggalin aku. Terima kasih karena papa selalu menepati janji. Adek sayang papa selamanya. 


-ultrautogia-
FF2in1

Pengagum Rahasia



Aku melihatnya malam itu. Berdiri dengan anggunnya, mengundang decak kagum siapapun yang melintas di depannya, termasuk aku. Hatiku berdegup kencang. Ingin aku mendekatinya, namun orang-orang itu terlebih dahulu mendekatinya. Aku hanya mampu memandanginya dari kejauhan. Melihat orang-orang datang dan pergi, orang-orang menghampiri dan meninggalkannya, orang-orang menyentuhnya dan tersenyum padanya. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Menunggu saat dia benar-benar sendiri. Menunggu saat yang tepat untuk mendekatinya. Menunggu keberanianku datang. 
Malam semakin pekat. Orang-orang sudah mulai pulang. Tempat ini sudah mulai sepi. Aku memberanikan diriku untuk mendekatinya. Kakiku bergetar hebat. Mata kami bertemu saat aku sudah cukup dekat dengannya. Aku tersenyum padanya berharap dia akan membalas senyumku. Namun, dia diam saja. Aku mengulurkan tanganku meraih sebuah benda putih yang tergantung di dadanya. Sebuah label harga.
Aku menelan ludahku. 
"Selamat malam? Ada yang bisa dibantu?" Seseorang dengan seragam spg menghampiriku. 
Aku tersenyum kecut. 
"Ini produk baru, limited edition loh bu. Bisa dicoba dulu kalau mau?" 
Aku membuka mulutku. "Ah, nggak usah. Kayanya nggak cocok buat saya. Terima kasih." 
Aku beranjak meninggalkan tempat itu.
Ya, sepertinya aku hanya mampu menjadi pengagum rahasiamu saja, gaun malam merah super mahal. 



-ultrautogia-
FF2in1

Wednesday, January 09, 2013

Sejak Ada Kamu

Aku tersenyum menatapnya. Aku tertawa bersamanya. Aku membelai tubuh lembutnya. Dia memandangku dalam diam. Dia menyentuh tubuhku perlahan. Dia menikmati saat-saat bersamaku.
Aku menangis di hadapannya. Menceritakan semua hal yang terjadi padaku. Dia selalu mendengarkanku. Kadang-kadang tangannya ingin meraihku.
Aku menciumnya. Aku memeluknya. Dia memejamkan mata dalam kehangatan dan ketenangan.
Sejak ada dia, aku dapat merasakan lagi keindahan dan kebahagiaan yang sudah lama hilang.
"Terima kasih Oscar, sejak ada kamu aku bisa merasakan kebahagiaan lagi. Aku juga bisa melupakan dan merelakan kepergian Rocky."
"Meong...." jawab Oscar sambil menggeliat di atas sofa. 


-ultrautogia- 

#FF2in1

Jangan Hubungi Aku Lagi

"Halo?"
"Ya, halo? Siapa ini?"
"Ini aku, Rendy. Masih inget kan?"
Memoriku melayang ke hari itu, hari dimana aku terakhir kali aku melihatnya. Aku memutuskan untuk meninggalkan dan melupakannya. Aku sudah menutup lembaran ceritaku dengannya. Di hari itu. Hari yang sangat menyakitkan untukku. Namun, hari ini, aku mendengar suaranya. Suara yang sudah lama aku tinggalkan dan lupakan. Suara yang aku rindukan.
"Ah! Rendy!" aku mencoba mengatur nafasku.
"Apa kabar kamu? Kangen banget sama kamu! Eh reuni yuk! Temen-temen ngajak reuni minggu depan di rumah Fendy, kamu bisa dateng kan?"
Aku terdiam. Pandanganku menerawang jauh.
Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi dari seberang sana.
"Bayi siapa itu yang nangis?", tanyaku lirih.
"Bayiku. Baru lahir dua bulan yang lalu, ini sekarang lagi digendong istriku. Makanya ayo dateng reuni. Pengen cerita banyak sama kamu!"
"Oh oke. See you next week. Sorry, aku sibuk. Aku tutup ya telponnya."
"Oke, see you next week, Jordan!"
Telepon ditutup.
Maafkan aku, Ren. Jangan pernah hubungi aku lagi. We are never ever getting back together as friends or lovers sejak kamu menikah dengan wanita itu.

-ultrautogia-
#FF2in1

Wednesday, January 02, 2013

Manusia Bersayap


Aku membuka sayapku bersiap untuk terbang. Malaikat. Bidadari. Peri. Mungkin nama-nama itulah yang akan orang-orang di bawah sana teriakkan saat melihatku terbang dengan sayap putih yang indah ini. Aku bukanlah ketiganya. Aku hanyalah manusia. Aku hanyalah manusia bersayap. Hari ini mungkin akan menjadi hari yang paling mengejutkan bagi orang-orang tersebut karena mereka bisa melihat seorang manusia bersayap seperti aku. 
Aku berdiri di ujung gedung paling tinggi di kota ini. Aku melebarkan sayapku. Dunia, lihatlah! Aku bisa terbang. Aku manusia terbang. Aku bukan manusia biasa.
"Aku Manusia Bersayap!!" teriakku dengan lantang sambil meloncat terbang dengan sayap putihku. 
"Lihat!!" orang-orang mulai berkerumun dan melihat ke langit, melihatku terbang. Pasti setelah ini mereka akan menganggap aku malaikat, bidadari, atau peri. 
Aku terus terbang di angkasa. Orang-orang semakin banyak yang berkerumun. 
"Ada orang bunuh diri!" teriak seseorang dari bawah sana. 
Apa? Bunuh diri? Bodoh! Aku tidak bunuh diri! Aku manusia bersayap! Aku terbang! Kecepatan terbangku semakin kencang. Aku menukik dengan sangat cepat. Lalu, terdengar bunyi jatuh yang sangat keras. Kepalaku hancur. Badanku remuk. Sayapku lepas. 
"Cepat telpon ambulans! telpon polisi! Ada orang bunuh diri!" 


-ultrautogia- 
#FF2in1

Selingkuh Sekali Saja



Dia melempar tubuhku di atas kasur putih itu. Kami berciuman tanpa henti. Dia mengecupku dengan lembut di setiap bagian tubuhku. Ya, sudah lama aku tidak merasakan ini. Terlalu lama. Sejak suamiku berhenti menyentuhku, sejak suamiku berhenti menciumku setiap pagi, sejak suamiku berhenti mengecupku setiap malam, ya, sejak dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanyalah seorang istri yang harus berdandan cantik setiap kali ada pesta dengan koleganya. Aku hanyalah seorang istri yang harus bersikap anggun saat aku diperkenalkan dengan mitra kerjanya. Aku hanyalah seorang istri yang harus mempersiapkan sarapan pagi dan makan malamnya. Aku hanyalah istri yang harus mendengarkan keluh kesahnya setiap malam. Yah, itulah aku baginya. 
Namun, saat ini ada dia. Dia yang selalu dapat memuaskan aku di atas ranjang. Ranjang yang biasanya selalu dingin setiap malam. Kami bercumbu dan terus bercumbu. 
Handphone-ku berdering. Aku menahan tubuhnya lalu berusaha meraih handphone-ku. 
"Halo? Kamu dimana? Cepet pulang! Kamu lupa ya? Kita harus dateng ke pesta peresmian restoran Pak Rendy!" bentak suara di ujung sana. 
"Oh iya, pa! Mama lupa! Ya udah mama pulang sekarang!" 
Aku segera menutup telepon dan membereskan barang-barangku. 
"Ra, maaf, aku harus pulang." 
Dia menatapku kecewa sambil memainkan rambut panjangnya. 
"Besok aku ke sini lagi," Aku mengecup keningnya.
"Janji ya?"
"Iya, janji... See you tomorrow, Tiara." Aku membelai rambut gadis cantik itu. 
Aku berlari menuju mobilku yang terparkir di depan rumahnya. Di sepanjang jalan pulang aku hanya termenung, ijinkan aku sekali saja rasakan cinta yang lain, meskipun hanya dengannya, hanya dengan Tiara. 


-ultrautogia- 
#FF2in1

Wednesday, December 26, 2012

Single Party



Aku berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang ini lagi. Single Party, namanya. Pestanya orang-orang jomblo yang ingin mencari jodoh. Caroline yang memaksaku ikut. Aku sebenarnya tidak pernah tertarik pada pesta-pesta mencari jodoh semacam ini karena bagiku jodoh bukanlah perkara yang mudah yang bisa ditemukan dalam hingar bingar seperti ini.
Namun, malam ini berbeda. Sepasang mata itu berhasil membuatku terperangkap. Dia menarikku jauh ke kedalaman matanya. Dia menghampiriku. Aku tahu kemana semua ini akan mengarah. 
Saat aku sadar, kami sudah berciuman setengah telanjang di sebuah kamar hotel. Dia bahkan tidak menanyakan namaku. Yah, aku pikir setidaknya ini lebih baik. Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai 'one-night-stand'. 
Keesokan paginya, aku tidak mendapatinya dimanapun di kamar hotel. Hanya sebuah memo kecil bertuliskan : 
Hai, namaku Peter. Telepon aku kapanpun kamu mau. 081234567XXX 
Aku meraih handphone-ku lalu menekan nomor tersebut. Sebuah suara yang masih terdengar asing bagiku menjawabnya. 
"Halo?" 
"Halo, Peter. Ini aku yang semalam bersamamu. Namaku Nathan." 
Aku tersenyum bahagia. Single Party ternyata tidak buruk juga. 


-ultrautogia- 

Friday, November 02, 2012

Something changing

I stared at my reflection in the mirror.
The same.
I stared at his reflection in the mirror.
The same.
I took a deep breath. There’s fog in the air. Cold. I felt so cold.
It’s freeze.
He held my hand. There’s something soft on my skin. But, it’s cold. I still felt so cold.
It’s freeze.
I embraced him. He took me into his chest. I heard constant heartbeats.
But still, I felt cold.
We are still the same. We are not changing.
Somehow, deep down there, something changing between us.
“So, we have to end it all here?”, I whispered to him.
“Hm. I’m sorry. I will marry her tomorrow, you know, my family want me to marry her for the sake of…”
“I knew it”, I cut his words “I knew it all… And I can feel it too… you don’t love me anymore, right?”
He hesitated. He released me from his chest.
I stared him. Same face. Same expression. Same gestures. Same voice. Same person.
Different heart. Different heartbeats.
“I’m sorry… I can never lie to you…”
“It’s okay. Just marry her.”
He hugged me again and left me few minutes later.
He’s still the same person that I knew. I’m still the same person that he knew.
But, something changing in us. Our hearts have changed. He has no heart for me. I have no heart for him. He has no love left for me. I have no love left for him.
Somehow, he left me something that I keep in secret.
A baby inside me.
Something changing in me.  
It’s more precious than our love or him or even my life. I will keep the baby for myself.




-ultrautogia- 

Thursday, October 11, 2012

Someday We'll Be Together


Frozen night. I saw the stars at the sky. There is only one star shining very brightly there. I smiled at the star. I missed him.
I remember the first time I met him ten years ago on this park. He fell, umm, no, we fell for each other. But, we knew we couldn't be together.
He held my hand and said "Someday, we'll be together."
"Why not now?", I asked.
"Because we can't."
He smiled and kissed me. I sinked in his lips.
Suddenly, I saw a big white wings on his back. He started to fly.
I closed my mouth with my hands. I couldn't believe what I saw.
"Are you an angel?", I asked in trigger.
"No, I'm a star. The most shining star in your life. Good bye."
He flew and flew and flew in the middle of the night. I watched him shining so brightly in the darkness of the sky. I cried.
"Someday, we'll be together, my most shining star." I whispered to myself.

-ultrautogia-
#FF2in1



Cobalah Mengerti


Aku ingin memeluknya. 
"Cobalah mengerti.", kataku padanya. Dia menatapku dalam diam. 
Aku ingin menciumnya. 
"Cobalah mengerti.", kataku lagi padanya. Dia masih diam. Airmatanya menetes. 
Aku ingin selalu bersamanya. 
"Cobalah mengerti.", seruku padanya. Tangannya menyentuh tanganku. Dingin. 
Aku menyentuh wajahnya. Tetap dingin. 
"Aku bernapas untukmu. Kamu nggak perlu berpikir. Kamu nggak perlu memahami. Kamu cuma perlu menerimaku apa adanya. Apa itu sulit untukmu?", tanyaku dalam tangis. Berharap tangannya akan menjadi hangat dan aku dapat memeluknya dalam kehangatan.
Aku menangis. Dia menangis. Aku berteriak. Dia berteriak. 
"Ah! Itu dia di sana!!" seorang lelaki berbaju putih berlari ke arahku kemudian menangkapku. 
"Suster cepat! Bawa dia ke kamar isolasi sebelum dia lari lagi!!" Segerombolan wanita berbaju putih memegangi tubuhku kemudian menyeretku ke dalam kamar isolasi. 
"Lepaskan aku ! Aku hanya ingin bersamanya !" 
Cekrek! Pintu isolasi dikunci. 
"Buka !! BUKA !! Cepat buka pintunya !!" Aku berteriak sampai suaraku serak. 
"Pastikan tidak ada cermin di dalam ruang isolasi.", kata dokter itu. 
"Iya, dok." jawab seorang suster cepat-cepat. 
"Pasien itu terobsesi dan jatuh cinta dengan bayangannya sendiri."
Dokter dan suster-suster tersebut berjalan meninggalkan ruang isolasi.


-ultrautogia-
#FF2in1

Monday, October 08, 2012

Pesta Dansa


Suara musik terdengar dari dalam ruangan besar itu. Aku masih berdiri di depan pintunya yang menjulang tinggi. Aku merapikan tatanan rambut dan gaun merahku, juga memastikan sepatu high-heels-ku sudah terpasang dengan benar. Aku menghela napas. Belum sempat aku mendorong pintunya, pintu itu sudah terbuka sendiri. Dua orang laki-laki berbaju biru rapi tersenyum sambil menyilahkan aku masuk ke ruangan. Aku berjalan kikuk. Ini pertama kalinya aku datang ke pesta mewah. Pelayan berlalu lalang membawa minuman-minuman warna-warni yang aku sendiri tidak tahu apa namanya ataupun rasanya. Makanan-makanan mahal juga tertata rapi di meja hidangan. Aku mengedarkan pandanganku, mencarinya.
Sebenarnya aku belum terlalu mengenalnya, tapi ayah dan ibuku bilang dia adalah tunanganku. Kami sudah dijodohkan dari kecil, hanya itu yang aku tahu. Aku tidak pernah diberi tahu siapa dia atau keluarganya atau apapun tentangnya. Ayah dan ibu selalu merahasiakannya dariku. Aku baru bertemu dengannya sekali. Seminggu yang lalu saat dia memberiku undangan pesta ini. Saat itu ayah dan ibu langsung mengiyakan dan memaksaku untuk datang.
"Angela, kamu sudah datang." Laki-laki itu menyambutku sambil berlutut dan mencium tanganku. 
Aku semakin kikuk. 
"Mau berdansa denganku?", katanya kemudian. 
Aku mengangguk kaku. 
Kami berdansa sepanjang malam. Saat itu, aku hanya merasa sedikit lelah. Kakiku capek. Mungkin karena aku tidak terbiasa berdansa. Tapi, seharusnya kepalaku masih normal. 
"Kenapa semua orang terlihat melayang?", tanyaku padanya. 
"Memang semuanya melayang.", jawabnya. "Kita juga melayang." 
Aku melihat ke bawah. Kakiku melayang-layang di udara. "Ada apa ini?", tanyaku panik. 
"Tenang saja, ini hanya pesta dansa. Semuanya pasti akan berakhir.", jawabnya sambil tersenyum. Wajahnya tampak pucat dan tangannya terasa sangat dingin saat menggenggam tanganku. 
"Ayah dan ibumu sudah memberikanmu padaku. Sekarang kamu ada di duniaku. Dunia orang mati." 
Tubuhku kaku tak sanggup lagi berdansa. Pesta pun usai. Namun, aku tak dapat kembali lagi ke duniaku.   





-ultrautogia- 
#FF2in1

Sunday, October 07, 2012

Film Pertama


"Adegan terakhir ya!!" teriak sang sutradara. Aku bersiap di lokasi syuting. Sebuah kamar dengan lampu redup. Tembok dan lantainya didominasi bercak warna merah yang diibaratkan darah yang berceceran akibat peristiwa pembunuhan. 
"Vicko, kamu udah siap?" tanya asisten sutradara padaku. 
"Iya." jawabku sambil mengangguk. 
"Oke! Take one! Scene seratus! Kamera rolling and action !" teriak sang sutradara. 
Seketika itu juga pandanganku nanar, aku mengambil sebuah pistol, dan menempelkannya di pelipisku. 
Tubuhku bergetar kencang. Airmataku menetes. Perlahan tapi pasti aku menarik pelatuk pistol. Suara tembakan terdengar menggema. Aku ambruk. Darah mengalir dari pelipisku. 
"Cut! OK! And it's wrapped!" teriak sutradara mengakhiri aktingku tadi. Semua orang di dalam ruangan bertepuk tangan. Syuting film pertamaku berakhir juga hari itu. 
Aku masih diam tak bergerak. 
"Ah sial!", gerutuku "Siapa yang menaruh peluru asli ke dalam pistol tadi?" 






-ultrautogia-

~dalam malam insomnia~